Kamis, 13 Oktober 2011

Kemuliaan Hari Jum'at


PADA suatu hari Nabi Musa a.s naik ke sebuah bukit. Dari tempat itu terlihat suatu kaum yang tekun beribadat. Nabi Musa a.s bertanya kepada mereka tentang ibadat yang mereka lakukan itu. Mereka menjawab, "Kami ini termasuk umatmu juga. Kami telah menyembah Allah dengan tekun selama tujuh puluh tahun. Kami makan buah-buahan dan minum air hujan. Kami hidup penuh kesabaran."

Nabi Musa a.s amat senang mendengarnya. Kemudian turun wahyu dari Allah SWT, firman-Nya, "Hai Musa, bagi umat Muhammad nanti, akan ada suatu hari dimana orang mengerjakan ibadat hanya dua rakaat. Pahalanya akan lebih baik daripada ibadat umatmu yang tujuh puluh tahun ini."

Mendengar firman Allah itu, Nabi Musa bertanya, "Ya Allah, hari apakah yang dilebihkan itu?"
Musa pun memohon kepada Allah agar untuk umatnya disediakan pula satu hari yang dilebihkan itu. Allah berfirman, "Untukmu, hari yang berbahagia itu adalah hari Sabtu. Untuk (Nabi) Isa hari Ahad (Minggu). Untuk (Nabi) Ibrahim hari Senin. Untuk (Nabi) Zakaria hari Selasa. Hari Rabu untuk (Nabi) Yahya. Sedangkan hari Kamis untuk (Nabi) Adam. Jum'at adalah untuk umat (Nabi) Muhammad."
Nabi Musa a.s bersyukur atas firman Allah itu.

Menurut hadist Nabi Muhammad SAW, doa seseorang pada hari Jum'at adalah doa yang makbul atau langsung dikabulkan oleh Allah SWT. Jum'at adalah hari yang penuh berkah.

Siapa yang awal datang ke masjid di hari Jum'at, diberi pahala ibarat berkorban seekor unta. Orang yang datang lebih lambat diberi pahala ibarat seekor sapi. Yang datang lebih lambat lagi, ibarat berkorban seekor domba. Dan orang yang datang pada saat-saat terakhir ibarat berkorban seekor ayam. Siapa yang datang paling akhir, ibarat berkorban sebutir ayam.

Siapa yang mandi sebelum shalat Jum'at diampuni segala dosanya. Setiap langkah perjalanan ke masjid untuk shalat Jum'at akan ditulis oleh Malaikat Allah seperti ibadah dua puluh tahun. Orang yang melakukan shalat Jum'at, pahalanya sama dengan amalan dua ratus  (200) tahun.

Di Baitul Makmur (langit ketujuh) ada suatu menara dari perak yang berwarna cemerlang berkilau. Di hari Jum'at naiklah malaikat Jibril ke atas menara itu untuk mengumandangkan adzan. Kemudian malaikat Israfil berkhutbah dan malaikat Mikail menjadi imam shalat Jum'at. Semua malaikat ikut shalat Jum'at.

Setelah selesai malaikat Jibril berkata, "Semua pahala adzan yang kulakukan, kuberikan pada sekalian muazzin di antara umat Muhammad."

Berkata pula malaikat Israfil, "Semua pahala khutbah-ku, kuserahkan pada umat Muhammad yang menjadi khatib di muka Bumi."

Berkata pula Malaikat Mikail, "Semua pahalaku karena menjadi imam dalam shalat Jum'at ini, aku berikan pada semua orang di kalangan umat Muhammad yang menjadi imam di hari Jum'at."

Semua malaikat yang menjadi makmum shalat Jum'at pun tak mau ketinggalan. Mereka pun berkata, "Semua pahala shalat kami berjamaah ini, kami berikan pada semua orang yang melakukan shalat Jum'at berjamaah."

Allah SWT berfirman, "Wahai sekalian malaikatulku! Adakah kamu perhatikan bahwa Allah Maha Pemurah? Demi Kemuliaan dan Kesucian-Nya, orang-orang yang shalat Jum'at diampuni dosa-dosa-nya. Merekalah yang taat pada perintah Allah dan setia pada kekasih-Nya, Muhammad."


Diambil dari : Buku CERITA TELADAN PARA NABI & MUJAHID (Bab V)

Senin, 22 Agustus 2011

Panasnya Api Neraka

Nabi Adam A.S. dan Hawa, istrinya, terusir dari surga karena tipuan iblis. Dengan perasaan sangat menyesal mereka meninggalkan tempat yang penuh kebahagiaan itu. Mereka berdua diturunkan ke Bumi dan terpaksa harus bersusah payah mencari makan, minum, dan tempat tinggal. Apa yang mereka alami jauh berbeda dengan surga indah yang serba ada dan serba nikmat.

Ketika mendapatkan daging buruan, mereka bingung bagaimana harus memasaknya. Maka berdo'alah Nabi Adam a.s. , memohon petunjuk Allah yang Maha Pencipta.
Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk mendatangi malaikat Malik, penjaga neraka. Di pintu neraka malaikat Malik bertanya:
"Apa maksudmu datang kemari, wahai Jibril?"
"Aku ingin meminta sedikit api."
"Seberapa banyak?"
"Sebesar buah kurma cukuplah."
"Jika kuberikan sebesar kurma, akan hanguslah langit dan Bumi karena panasnya."
"Kalau begitu separuhnya saja."
"Separuhnya pun masih sangat panas. Langit tak akan lagi mencurahkan hujan dan Bumi tak akan dapat menumbuhkan tanaman."

Lantas Jibril memohon kepada Allah, "Ya, Allah seberapa banyakah api yang harus kuminta?"
"Sebesar biji zarrah," perintah Allah SWT pada malaikat Jibril a.s.

Biji zarrah tak lebih besar dari biji bayam. Sebesar itulah api untuk dunia yang diminta malaikat Jibril dari malaikat Malik. Ketika menyerahkan sumber api tersebut, malaikat Malik berpesan,
"Jangan langsung diserahkan."
"Mengapa?" Tanya Jibril
"Masih terlalu panas, kalau digunakan hanya untuk memasak."
"Jadi harus diapakan dulu?"
"Cucilah terlebih dahulu."
"Dengan apa?"

Mengikuti saran malaikat Malik, maka dicucilah api tersebut dengan air  yang berasal dari tujuh puluh  sungai. Bilasannya pun tujuh puluh kali. Begitupun, api itu tidak langsung diserahkan kepada Nabi Adam a.s. Ketika dibawa ke Bumi, mula-mula api tersebut diletakkan di atas sebuah bukit. Apa yang terjadi? Seketika bukit itu musnah. Api itu kembali ke asalnya di neraka. Sisa asapnya membekas di atas batu-batu dan besi, warnanya hitam sampai sekarang.

Api yang kita lihat didunia sampai sekarang ini adalah sisa dari asap api itu. Asalnya tak lebih besar dari biji zarrah.
Bayangkan betapa panasnya api nereka. Meski sudah dibilas begitu seringnya pun, api neraka yang tak lebih besar dari biji bayam itu masih bisa melahap habis bukit tersebut. Api di dunia yang kita hadapi sekarang saja sering membuat kita tak berdaya. Bencana api seperti kebakaran hutan bahkan dapat berlangsung berbulan-bulan. Kita harus bersusah-payah memadamkannya. Banyaknya tanaman dan binatang yang musnah sudah tak terbilang. Bahkan jiwa manusia pun menjadi korban. Panas yang ditimbulkannya sungguh dahsyat dan mengerikan.

Dalam hadist digambarkan, sedingin-dinginnya api neraka bagaikan memakai alas kaki dari api. Demikian panasnya hingga otak di kepala menjadi mendidih. Tak akan ada manusia yang tahan menghadapinya.
Dalam Al-Qur'an digambarkan bagaimana nasib manusia yang masuk neraka. "Setiap kali daging dan tulang-belulang hancur dimakan api, maka daging dan tulang itu diutuhkan kembali untuk dihancurkan lagi. Begitulah terus-menerus sehingga siksa dan azab Allah SWT itu terasa benar."


"Rabbannaa innanaa aamannaa faghfir lanaa dzunuubanaa wa qinaa 'adzaaban naar". Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali 'Imran (3):16)