Tampilkan postingan dengan label Malaikat Jibril. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaikat Jibril. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2011

Panasnya Api Neraka

Nabi Adam A.S. dan Hawa, istrinya, terusir dari surga karena tipuan iblis. Dengan perasaan sangat menyesal mereka meninggalkan tempat yang penuh kebahagiaan itu. Mereka berdua diturunkan ke Bumi dan terpaksa harus bersusah payah mencari makan, minum, dan tempat tinggal. Apa yang mereka alami jauh berbeda dengan surga indah yang serba ada dan serba nikmat.

Ketika mendapatkan daging buruan, mereka bingung bagaimana harus memasaknya. Maka berdo'alah Nabi Adam a.s. , memohon petunjuk Allah yang Maha Pencipta.
Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk mendatangi malaikat Malik, penjaga neraka. Di pintu neraka malaikat Malik bertanya:
"Apa maksudmu datang kemari, wahai Jibril?"
"Aku ingin meminta sedikit api."
"Seberapa banyak?"
"Sebesar buah kurma cukuplah."
"Jika kuberikan sebesar kurma, akan hanguslah langit dan Bumi karena panasnya."
"Kalau begitu separuhnya saja."
"Separuhnya pun masih sangat panas. Langit tak akan lagi mencurahkan hujan dan Bumi tak akan dapat menumbuhkan tanaman."

Lantas Jibril memohon kepada Allah, "Ya, Allah seberapa banyakah api yang harus kuminta?"
"Sebesar biji zarrah," perintah Allah SWT pada malaikat Jibril a.s.

Biji zarrah tak lebih besar dari biji bayam. Sebesar itulah api untuk dunia yang diminta malaikat Jibril dari malaikat Malik. Ketika menyerahkan sumber api tersebut, malaikat Malik berpesan,
"Jangan langsung diserahkan."
"Mengapa?" Tanya Jibril
"Masih terlalu panas, kalau digunakan hanya untuk memasak."
"Jadi harus diapakan dulu?"
"Cucilah terlebih dahulu."
"Dengan apa?"

Mengikuti saran malaikat Malik, maka dicucilah api tersebut dengan air  yang berasal dari tujuh puluh  sungai. Bilasannya pun tujuh puluh kali. Begitupun, api itu tidak langsung diserahkan kepada Nabi Adam a.s. Ketika dibawa ke Bumi, mula-mula api tersebut diletakkan di atas sebuah bukit. Apa yang terjadi? Seketika bukit itu musnah. Api itu kembali ke asalnya di neraka. Sisa asapnya membekas di atas batu-batu dan besi, warnanya hitam sampai sekarang.

Api yang kita lihat didunia sampai sekarang ini adalah sisa dari asap api itu. Asalnya tak lebih besar dari biji zarrah.
Bayangkan betapa panasnya api nereka. Meski sudah dibilas begitu seringnya pun, api neraka yang tak lebih besar dari biji bayam itu masih bisa melahap habis bukit tersebut. Api di dunia yang kita hadapi sekarang saja sering membuat kita tak berdaya. Bencana api seperti kebakaran hutan bahkan dapat berlangsung berbulan-bulan. Kita harus bersusah-payah memadamkannya. Banyaknya tanaman dan binatang yang musnah sudah tak terbilang. Bahkan jiwa manusia pun menjadi korban. Panas yang ditimbulkannya sungguh dahsyat dan mengerikan.

Dalam hadist digambarkan, sedingin-dinginnya api neraka bagaikan memakai alas kaki dari api. Demikian panasnya hingga otak di kepala menjadi mendidih. Tak akan ada manusia yang tahan menghadapinya.
Dalam Al-Qur'an digambarkan bagaimana nasib manusia yang masuk neraka. "Setiap kali daging dan tulang-belulang hancur dimakan api, maka daging dan tulang itu diutuhkan kembali untuk dihancurkan lagi. Begitulah terus-menerus sehingga siksa dan azab Allah SWT itu terasa benar."


"Rabbannaa innanaa aamannaa faghfir lanaa dzunuubanaa wa qinaa 'adzaaban naar". Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali 'Imran (3):16)